08
Jul

Teknologi

Posted by Anadin lanta barat

Telescope dengan menggunakan teknologi yang sangat canggih

Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya amat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri.Oleh sebab itu, tepat momentumnya jika kita merenungkan masalah teknologi, menginventarisasi yang kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar dampaknya terhadap transformasi budaya kita.Sebagian dari kita beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. padahal, kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer.Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.

Sejarah Teknologi

Perkembangan teknologi berlangsung tidak secara mendadak, tetapi berlangsung secara evolutif.Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran dan hasil kebudayaan telah nampak berorientasi ke bidang teknologi. Secara etimologis, akar kata teknologi adalah “techne” yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni.Istilah teknologi sendiri untuk pertama kali dipakai oleh Philips pada tahun 1706 dalam sebuah buku berjudul Teknologi: Diskripsi Tentang Seni-Seni, Khususnya Mesin (Technology: A Description Of The Arts, Especially The Mechanical).

Kemajuan Teknologi

Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah.

Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu :

  • Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris: neutral technological progress)
    Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
  • Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological progress)
    Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.
  • Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological progress)
    Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modal.

Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintaharus teknologi asing ke negara-negara berkembang.[5] Di lain pihak suatu kebijaksanaan ‘pintu yang lama sekali terbuka’ terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit. yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat

Referensi

  1. ^ a b Hamengku Buwono X (Sultan of Yogyakarta), “Merajut Kembali Keindonesiaan Kita”, Gramedia Pustaka Utama, 2007, 9792234357, 9789792234350.
  2. ^ a b c Burhanuddin Abdullah, “Menanti Kemakmuran Negeri: Kumpulan Esai Tentang Pembangunan Sosial Ekonomi Indonesia”, Gramedia Pustaka Utama, 2006, 9792222790, 9789792222791.
  3. ^ a b c d Imam Sukardi, “Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern“, Tiga Serangkai, 2003, 9796684055, 9789796684052.
  4. ^ a b “Pembangunan Ekonomi, Edisi 9, Jilid 1″, Erlangga, 9790158149, 9789790158146.
  5. ^ a b Isei, “Pemikiran Dan Permasalahan Ekonomi Di Indonesia Dalam Setengah Abad Terakhir 4″, Kanisius, 2005, 979211212X, 9789792112122.

Did you like this? Share it:
08
Jul

Belajar Membuat Robot Sederhana

Posted by Anadin lanta barat

“Kita bisa bikin robot sendiri Pak?” Itulah kalimat yang pertama kali keluar dari mulut wajah-wajah polos itu. Buat sebagian besar anak-anak Indonesia, robot masih menjadi bagian imajinasi film-film kartun. Maka, sibuklah anak-anak Sekolah Dasar (SD) Al Hikmah Surabaya itu membuat proyek robotnya. Sebuah robot sederhana yang terbuat dari rangka mesin mobil-mobilan tamiya yang ditempeli stik es krim. Selain sebagai bahan pembuat bodi, stik es krim juga berfungsi sebagai pelontar.

Sesekali mereka berceloteh, membayangkan kehebatan robot ketapel ciptaannya. Dengan tekun mereka merangkai stik es krim yang ditempel lem pada rangka mobil tamiya. Bahkan, ketika memasuki tahap memasang pelontar ketapel, juga dari stik es krim yang direkat dengan selotip, mimik mereka menjadi lebih serius. Pasalnya, pelontar itulah yang akan menjadi penentu kehebatan robot mereka saat diadu nantinya.

Sejak April 2002, kegiatan mengajar anak-anak membuat robot menjadi kegiatan rutin Arief Yudanarko setiap sabtu pagi. Ia beserta timnya dari Pusat Pengembangan Teknologi pada Anak Cerdikia mengisi kegiatan ekstrakurikuler robotik pada murid-murid SD Al Hikmah. Beragam jenis robot sederhana telah mereka perkenalkan, mulai robot ketapel, robot tikus hingga robot penyapu sampah. Untuk menciptakan suasana kompetisi, setiap hari besar, peringatan Tahun Baru Islam 1 Hijriah msalnya, diadakan lomba antarkelas.

“Ini semua berangkat dari keprihatinan saya tentang rendahnya pemahaman tentang teknologi pada generasi muda kita. Robot, misalnya, sebagai salah satu wujud teknologi masih identik dengan film atau tokoh imajinasi, semisal Robocop,” ujar Arief, pendiri dan pengelola Cerdikia. Padahal, lanjut Arief, teknologi telah begitu lekat dengan kehidupan kita. Hampir tidak ada satu aktivitas manusia yang dapat berlangsung tanpa peran serta teknologi.

“Saya bercita-cita memperkenalkan anak-anak pada teknologi sedini mungkin. Agar bangsa kita tidak lagi hanya jadi konsumen teknologi, tapi juga produsen yang inovatif,” ujar Arief yang pernah mewakili Indonesia pada International Robot Contest (IRC) pada 1995 di Osaka Jepang.

Arief bahkan rela melepas pekerjaannya yang telah mapan di Radnet, sebuah perusahaan teknologi informasi ternama di Surabaya. Kini, lelaki lulusan Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu berkonsentrasi penuh pada Cerdikia. Ia kini tengah menjajaki pembelajaran robotik di sekolah lain.

Lelaki kelahiran 25 April 1975 itu berupaya menjadikan Cerdikia sebagai lembaga yang profesional. Untuk itu, pencetakan tenaga pengajar yang berkualitas pun menjadi agenda utama. Selain itu, yang paling utama adalah penciptaan kurikulum. Seluruh materi diupayakan bersifat sederhana, mudah dimengerti namun merangsang daya kreasi anak.

Berguru pada Jepang

Indonesia, kata anadin, perlu berguru pada Jepang. Di Negara Matahari Terbit itu, anak-anak telah diperkenalkan pada teknologi sejak bangku taman kanak-kanak (TK). Bahkan, secara rutin perusahaan-perusahaan penghasil robot mempresentasikan robot kreasinya ke sekolah-sekolah. Robot humanoid Asimo dan robot anjing Aibo produksi Honda pun dijual bebas dengan harga terjangkau. Sementara di Indonesia, pameran Asimo diselenggarakan sebagai acara selingan dalam arena pameran otomotif. Jelas, bukan ajang edukasi yang tepat bagi anak.

“Untuk memperkenalkan ilmu pengetahuan (iptek) pada anak, sebenarnya tidak perlu membawa Asimo atau Aibo ke kelas. Kita dapat membawa kipas angin atau menunjukkan mesin cuci, karena perangkat teknologi sederhana itu sebenarnya adalah robot juga. Jika kita terus menempatkan teknologi termasuk robotik sebagai sesuatu yang rumit dan tidak terjangkau makin sulit kita mengejar. Itulah, filosofi dasar Cerdikia,” ujar Arief bersemangat.

Robotik, seperti juga inovasi teknologi lainnya memang masih menjadi mahluk ‘asing’ buat sebagaian besar masyarakat Indonesia. Ketika Jepang telah mampu menciptakan robot yang pandai menari, mahasiswa Indonesia yang mengikuti Indonesia Robot Contest (IRC) 2003 lalu, baru mampu berkreasi dengan robot berangka aluminium pelontar bola takraw.

Hingga kini, Indonesia belum mampu berbicara dalam kontes robot internasional bahkan regional sekalipun. “Kuncinya, jangan pernah memarginalkan kemampuan bangsa kita dengan menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang tak terjangkau. Kapan kita berhenti sebagai pengguna yang konsumtif?” tanya Arief lugas.

Tentunya, kata Arief, perkenalan anak-anak dengan dunia teknologi baru dapat terwujud jika terjadi kolaborasi antara pihak sekolah dengan orang tua. Orang tua sebaiknya tidak hanya menjejali anak dengan target prestasi akademis semata. Akibatnya, daya kreasi anak perlahan tidak berkembang.

Disisi lain, Arief juga mengimbau pihak sekolah agar mau membuka pintu bagi sejumlah ekstrakurikuler alternatif. Hingga kini belum banyak sekolah yang menyelenggarakan ekstrakurikuler bermuatan teknologi. Ekstrakurikuler robotik, seperti yang diselenggarakan SD Al Hikmah, ditengarai belum banyak diadakan sekolah lain.

Padahal, untuk memulai demam teknologi di kalangan anak Indonesia, kata Arief, kita tidak perlu mengimpor kit permainan robotik produksi Lego Mindstrom. “Misalnya, dengan membeli tamiya yang kini harganya cuma Rp 8000,- anak-anak dapat diperkenalkan pada fungsi motor, gerak dan kecepatan,” ujar Arief.

Namun, yang terjadi selama ini, permainan anak hanya menjadi pemicu budaya konsumerisme semata. Pada tahap lebih lanjut, mainan anak yang berfungsi edukasi akan membuat anak lebih kritis dan leluasa berkembang, baik dari sisi motorik, afeksi dan psikomotorik. Sayangnya, lanjut Arief, orang tua lebih memilih membelikan anaknya Play Station yang membuat nak betah di rumah, namun cenderung membuat anak tak berkembang optimal.

Did you like this? Share it: